Jumat, 25 Januari 2013

Merana Terus (MT) ~ Positive Thing (Without 's')


 Yah ada ga enaknya suatu hal pasti adalah enaknya, itu pasti. Semua yang ada di dunia ini pasti harus seimbang. Hanya di program ini gw bisa dapet jalan2 gratis (bahkan dibayar) ke luar2 daerah. Yah, mungkin hal ini yg bilang enak cm gw doang karena pas kebagian di kota2 besar berbeda dari beberapa temen2 gw yang mendapatkan penempatan di tempat jin buang anak. Daerah ‘blesek-blesek’ yang harus menempuh setengah hari perjalanan darat mendaki gunung lewati lembah, kayak ninja Hatori, setelah sebelumnya menempuh beberapa jam perjalanan udara menuju kota besar terdekat dari kota “antah berantah” itu.
 Beruntung buat gw bisa dapet di jatah jalan2 ke kota besar diantaranya Bogor dan Medan, ya setidaknya di kota2 tersebut gw ga akan kesulitan mencari hiburan2 di kala suntuk dengan kerjaan (padahal ga juga kerja, Cuma observasi) atau dengan kebosanan yang timbul. Di Bogor, memang kebetulan gw ga terlalu asing dengan kota ini karena dulu pas jaman walkman masih pake kaset pita, gw menghabiskan 4 tahun hidup gw di kota ini untuk menimba ilmu (sumur kali menimba). Yoi, gw kuliah di Institut Pertanian Bogor a.k.a IPB, sebuah kampus yang katanya berbasiskan pertanian tapi sangat sedikit lulusannya yang akhirnya berkarier di bidang pertanian. IPB bukan lagi menjadi Institut Pertanian Bogor tapi berubah menjadi Institut Perbankan Bogor, Institut Presenter Bogor (mang ada presenter terkenal dari IPB?? Ngarang aja sih gw), sampai Institut Presiden Bogor... *no comment. Saking banyaknya industri (kecuali pertanian itu sendiri) yang bisa dimasuki oleh lulusan2 IPB, IPB belakangan menjadi Institut Pleksibel Banget. Pleksibel ya bukan fleksibel, yup karena di Bogor memang mayoritas orang Sunda menjadi kesulitan untuk melafalkan huruf “f” dengan “p” bahkan orang sunda ga mengenal ada huruf “v” adanya huruf “phe”. Tapi entah kenapa orang2 Sunda suka ga ngaku klo diledekin masalah pelafalan “f”  dan “p” ini, “itu pitnah” kata mereka. Oleh karena itu klo lo mau bikin semacam toko atau restoran atau apalah di daerah Sunda, di pintu masuknya jangan lo bikin tarik tapi dorong dan pasanglah tanda “push” (yang artinya dorong). Kenapa? Klo lo bikin pintu masuknya tarik bisa dibilang orang2 Sunda ga akan masuk, karena mereka pikirnya sudah penuh (tarik = pull, atau penuh klo bahasa Inggrisnya orang Sunda).
Kota ke dua, Medan, lebih menarik lagi. Lo harus tahan2 emosi klo mau ngomong sama orang2 di sini. Klo dibikin tulisan, semua perkataan mereka pasti di akhir kalimat selalu diakhiri sama tanda seru!!! Belum lagi perbedaan makna kata2 yang dipakai orang2 Medan dengan di kota2 lain. Cuma di medan anak2 SMP bisa mengendarai kereta, dan Cuma di Medan ada servis jok kereta dan tambal ban kereta di pinggir2 jalan. Aneh? Kedengerannya memang aneh, tapi klo dilihat sebenarnya tidak karena di Medan, kereta = sepeda motor. Temen gw yang dari Medan datang ke Jakarta malah bikin heboh di saat dia mau pergi beli rokok di mini market, karena malas jalan dia bermaksud pinjam “kereta” dari temannya. Belum reda keheranan dari orang tersebut, teman gw itu malah bilang dia sudah punya SIM Kereta sejak dia SMA, dan menjamin orang tersebut klo “kereta” nya hilang dia akan mengganti dengan “kereta” yang baru, tapi dikredit. 
Di Medan juga lo akan mendapati klo sedang makan di warung makan di saat lo memesan minum “es teh manis” lo akan dibalik tanya: “dingin atau tidak teh manisnya?”. Apakah karena saking panasnya cuaca di Medan hingga akhirnya es di Medan tidak dingin?? Ataukah es di Medan tidak dibuat dari air, tetapi dari air panas?? Ternyata usut punya usut, es teh manis di Medan di sebutnya “manis dingin” atau biasa di singkat “Mandi”, dan kalau es teh pahit disebut “pait dingin” atau “padi”. Jadi jangan aneh klo di Medan orang biasa mau Mandi di warung kopi.
Itu mungkin sisi kenikmatan yang gw dapet di program ini, kenikmatan yang lain?? Apa ya?? Ga ada kayaknya, maka mari kita kembali bahas ke hal2 menyebalkannya, shall we?? J

Merana Terus (MT) ~ Acting Mode


Cukup bahas masalah sapi, balik lagi ke pembahasan masalah program laknat ini. Satu-satunya skill yang bisa gw improve dari program ini adalah skill gw dalam berakting. Acting ternyata salah satu skill yang utama harus dikuasai untuk mengikuti program MT ini. Pastinya lo ga pengen kan disaat orang sedang giat2nya kerja lo malah keliatan bengong karena memang belum dikasih tanggung jawab apa2 khususnya pada saat masa observasi. Daripada lo kelihatan tidak produktiv di mata rekan2 kerja, apalagi klo pas lewat bos2 besar, skill acting lo di sini harus menonjol. Lo bisa acting baca2 buku, buka2 email atau ngetik2 bikin tulisan ga jelas ini. Dengan acting lo bisa lolos dari omelan2 bos, atau cibiran2 rekan2 kerja yang sirik, disamping waktu pulang juga akan terasa lebih cepat apabila actinglo bagus (tips MT nomor sekian).
Skill acting juga sebenarnya bisa menghindarkan lo dari denda penalti bila lo udah ga betah di program brengsek ini. Di akhir program ini kan nanti ada presentasi dengan direksi untuk mempresentasikan hasil traininglo keseluruhan, untuk nanti akan di review dan dinilai siapa yang bisa lulus dan siapa yang tidak lulus program terkutuk ini. Kalau yang tidak lulus pastinya tidak harus bayar denda penalti dong, gila aja udah ga lulus masih harus bayar penalti lagi? Sama halnya kayak sapi yang mau dikurbanin tapi masih harus disuruh bajak sawah dulu dan diperas susunya. *Dan lagi-lagi analogi dengan sapi.. :]Y
Nah, di presentasi akhir ini skill acting juga bisa dilakukan dengan acting berpura-pura bodoh sehingga pas presentasi mendapatkan hasil yang buruk. Tapi klo pada dasarnya ya emang udah bodoh ya ga usah pake acting lagi.. bersikap natural aja, sama kayak lagunya DNasib “Senatural mungkin aku lebih suka..”. Yah tentunya dengan acting ini harus siap juga konsekuensi untuk tidak bekerja lagi di perusahaan ini, tapi dengan acting yang total dan optimal terkadang dari pihak personalianya tersentuh sehingga menawarkan posisi lain di luar program yang telah dijalankan. Ga tahu menawarkannya atas dasar kasihan atau ga mau rugi kehilangan denda penalty yg harusnya mereka dapatkan. Yah walaupun posisi yang ditawarkan belum tentu memang benar-benar dibutuhkan atau hanya rekayasa agar tercipta kesan baik perusahaan tersebut. *jiahhh udah gagal MT masih aja tetep tertipu.. Manusia Terhina memang.. :D

Merana Terus (MT) ~ Observation


Masa2 observasi itu juga bisa dibilang sih penghalusan kata dari masa2 MaGaBut alias makan gaji buta. Di masa ini kita Cuma disuruh observasi aja kegiatan2 operasional kantor itu kayak gimana, biar nanti klo kita benar2 terjun langsung ke operasional ga kaget dengan kondisinya. Sehari dua hari pertama sih masih bisa ya kita dapet esensi yg dimau, tapi mulai di hari2 berikutnya yg ada Cuma planga plongo aja bingung ga tau ngapain. Di saat2 ini waktu rasanya berjalan sangat lama, kita akan Cuma nungguin kapan waktu makan siang, kelar makan siang, kita akan kembali nunggu kapan waktu pulang. Gak guna kan waktu kita? Rasanya terbuang percuma semua waktu kita hanya dengan menunggu, tapi gak pa pa lah selama kita masih digaji. Apa kita dibayar untuk menunggu ya??
Pekerjaan yang menyebalkan. Belom lagi pandangan orang2 sekitar yg sirik dengan kita karena kita kerja kayak gini doang digaji besar (besar emang?) sedangkan mereka yang bekerja dengan sangat keras hanya digaji (mungkin) hampir setengah dari gaji kita. Yah klo dianalogikan bisa seperti sapi perah dan sapi pekerja, sapi pekerja disuruh bajak sawah atau tarik gerobak makanan paling Cuma rumput, tapi kenapa sapi perah udah kerjaannya Cuma diraba-raba bisa dapet vitamin tambahan segala disamping rumput. Kenapa gw menganalogikan diri gw dengan sapi?? Udahlah ga usah dibahas.. J
Omong-omong soal menunggu, Di saat tulisan ini dibuat, penulis (yoi keren banget, pdhal lagi nganggur) juga sedang dalam keadaan menunggu. Bukan sedang dalam masa observasi padahal, tapi menunggu dimana nanti gw akan ditempatkan. Bisa dibilang status gw sekarang sama kayak sapi kurban yang menunggu dibeli apa ngga, jadi dikurbankan apa ngga. Kenapa gw menganalogikan diri gw dengan sapi lagi ya?? Dibahas ga ya?? J
Okelah kita bahas dikit, intermezzo dari premis utamanya. Kenapa sapi? Ya entah kenapa gw suka mendapatkan perhatian lebih dari teman2 gw satu hari menjelang hari raya kurban. Yup hari raya kurban padahal gw ga merayakannya. Di waktu tersebut teman2 gw terbagi menjadi 2 golongan, golongan yang pertama beberapa hari sebelum hari kurban gw sering ditraktir sama mereka sampai berat badan gw bertambah, entah apa sebenarnya maksud mereka. Golongan yang kedua biasanya satu hari menjelang hari raya kurban gw malah jangan disuruh keluar rumah, usut punya usut sih untuk menghindarkan gw dari teman2 golongan yang pertama itu..  
Kalau cerita sebelumnya belum menjawab pertanyaan mengapa gw suka menganalogikan diri gw sendiri dengan sapi, apakah masih kurang jelas klo sapi disebut sebagai hewan memamah biak, mempunyai 4 rongga perut dan doyan mengunyah?? Gw ga bilang klo gw punya 4 rongga perut paling 4 lipatan lemak aja di perut yang ada. *gak usah dibayangin!!!*, tapi ok klo gw suka mengunyah kayak sapi, tapi gw ga ngunyah rumput kayak sapi. Heran ya? Sapi ngunyah rumput aja bisa gemuk. Makanya gw suka ga setuju sama statement orang2 klo lo mau langsing lo cukup makan sayuran aja. Gak setuju!! Itu buktinya sapi mana ada yang langsing?? Sama halnya nasihat orang2 klo mau langsing harus banyak olah raga, khususnya berenang. Tetep ga setuju juga!!! Ikan paus emang ada yang langsing??

Merana Terus (MT) ~ Others Perspective


Namun seiring berjalannya waktu MT gw rasa jadi banyak ya kepanjangan artinya bukan hanya Management Trainee lagi. Seperti yg gw bahas awal MT sebagai Manusia Tertipu, bisa lagi Manusia terpinggirkan/terkucilkan karena biasanya kita jarang ada temennya, Muka Tampolan karena emang biasanya anak2 MT ini (katanya) sih suka ngeselin dan banyak tingkahnya, Cuma ada satu yang paling pas dengan keadaan fisik gw yaitu Makan Tempat alias kamba. Bisa dibilang tubuh bongsor kayak gw itu ga cocok sebagai seorang MT, kenapa? Di dalam program MT ini suka ada yang namanya masa observasi dimana kita akan ditugaskan untuk ke suatu departement atau kantor cabang untuk sekedar seat in mengamati proses kerja di tempat itu. Seat in.. berarti kita harus duduk sembarang di tempat kita observasi itu, bisa dibilang pada awalnya keadaan di suatu departement/kantor cabang tersebut sudah dalam keadaan teratur, datanglah seorang MT berbadan besar datang untuk observasi. Satu hal yg jadi pemikiran mereka adalah: “dimana ni anak mau duduk?? Ga ada dia aja udah sempit..”
Bosen di ruangan seharian kadang kita juga diberi kesempatan untuk site visiting ke luar kantor biasanya untuk mengamati kondisi pasar seperti apa. Sekali lagi badan bongsor ga cocok sebagai seorang MT. Walaupun kita keluar ruangan, tapi pastinya ga boleh pergi sendiri harus didampingi (biasanya) oleh marketing staff dengan diboncengin motor. Manusia mana yang mau boncengin badan sebesar ini?? Tukang ojek aja yg gw bayar kadang ga mau ngangkut gw, klo gw dateng ke pangkalan ojek pasti tu tukang2 ojek gambreng, yg kalah bawa gw.. L
Ditambah motor2 kebanyakan yang dipakai oleh tenaga pemasar itu adalah sejenis skuter matik (seperti Yamaha Mio atau Honda Beat) yang nota bene paling banter juga 125 cc segede-gedenya. Gw inget pas masih kuliah dulu bawaannya Suzuki spin, kata keponakan gw klo lagi bawa motor gw kayak beruang sirkus naek sepeda roda tiga. Tuh keponakan baru 5 tahun padahal, tapi kurang ajar.. kok bisa jujur banget ngomongnya.. Mulai saat itu gw bertekad buat diet, gak makan malem.. Tp gw siasati dengan makan yg kenyang dulu sebelum tidur, yg penting ga makan malem..
Ada sebaik-baiknya tenaga pemasar yg mau boncengin gw ya kadang2 gw ga tega juga klo besok2nya tu motor langsung turun mesin karena medan yang menjadi rute site visitnya itu  turun naik tanjakan. Hingga akhirnya mereka menyerah, gw diberikan kompensasi untuk jalan site visit sendiri (entah ini suatu kompensasi atau ngeledek?) dipinjamkanlah gw motor tapi dengan suatu peringatan untuk selalu hati2. Sekilas gw agak tersentuh dengan peringatan itu, namun seketika berubah setelah mendengar kelanjutan peringatan tersebut: “hati2 soalnya badan seperti kau itu klo pesen peti matinya harus indent” Kampret L

Merana Terus (MT) ~ The Requirements


Penandatanganan kontrak kerja (ga kerja jg sebenarnya) MT dihadiri oleh kami para peserta MT dengan pihak personalia perusahaannya. Satu hal yang menjadi concern sebelum kontrak di tanda tangani adalah adanya ikatan dinas selama 2 tahun dan penalti apabila mengundurkan diri secara sepihak sebesar 10 juta. Ikatan dinas ini berarti kami harus mengabdi di perusahaan ini minimal 2 tahun setelah mengikuti masa training yang selama 6 bulan, bisa ditempatkan dimana saja, disarankan tidak menikah, dan bersedia apabila diberikan tugas lain apabila atasan meminta.
Ø  Bersedia ditempatkan dimana saja, ini sebenarnya statement yang mengerikan karena tidak ada kejelasan dimana sebenarnya kami ditempatkan. “Dimana saja” ini kan bisa berarti di tempat2 terpencil, di luar pulau, atau bahkan di neraka jahanam sekalipun.
Ø  Disarankan tidak menikah, apalagi dengan orang sekantor. Awalnya memang keberatan sih, tapi dipikir-pikir benar juga. Menikah dengan satu orang aja bisa pusing apalagi dengan orang sekantor.
Ø  Bersedia diberikan tugas lain apabila atasan meminta. Sukur2 klo atasan yang dipunya masih memberikan kerjaan di lingkup pekerjaan, nah apabil dapat atasan yang gila nyuruh2 beres2 rumahnya atau gantiin popok anaknya kan repot? Statement ini juga mengerikan sebenarnya.
Kalau kurang dari masa tersebut kami mundur maka denda sebesar 10 juta harus kami bayarkan kepada perusahaan sebagai kompensasi sudah memberikan training kepada kami, istilahnya adalah penalti. Ini perusahaan atau pertandingan sepak bola?? Bisa ga ya penaltinya nendang bola aja kagak usah bayar 10 juta?? Sebenarnya yg rugi kan bukan Cuma perusahaan aja yg ngasih training 6 bulan, trainingnya jg ga WoW bgt.. kami juga rugi waktu kami terbuang sia2, kompensasi untuk kami mana?? *kena tendang bola
Sejak penandatanganan kontrak itu, entah kenapa kami jadi terobsesi sekali dengan uang sejumlah 10 juta. 10 Juta yang bisa kami gunakan untuk menebus ijazah kami yang ditahan, gw heran sebenarnya apa sebenarnya salah dari ijazah gw kok sampai ditahan. Apa hanya karena ada tulisan “Cum Laude” nya jadi ijazah gw ditahan?? *sombong dikit B-). Gw yakin bila ada salah satu diantara kami para peserta program mengikuti sebuah kuis atau undian, dan menang misalnya. Apabila saat menang kuis/undian tersebut ditanya sama pembawa acaranya:”untuk apa uang hadiah itu?”, orang lain yang menang pasti jawabnya: “untuk bahagiain orang tua, bikin rumah, atau investasi bisnis”, tapi klo para peserta program MT yg menang kuis/undian pasti nanti jawabnya: “Buat bayar Penalti MT!!!”. 

Merana Terus (MT) ~ The Begining


Sudah beberapa bulan menjadi seorang Management Trainee (MT) kayaknya gw belum juga mengalami perubahan pesat dalam karier gw seperti yang sudah dijanjikan sama manajemen pada saat merekrut gw pertama kali. Yah, tertipu memang atau memang itulah arti sebenarnya dari MT bukan kepanjangan dari Management Trainee tetapi dari “Manusia Tertipu”??
Kembali jauh sekitar 7 bulan yang lalu di saat gw masih menganggur, mencoba untuk memasukkan aplikasi2 lamaran kerja ke beberapa perusahaan, memang lowongan sebagai MT termasuk salah satu yang rajin untuk gw apply. Walaupun untuk menjadi seorang MT banyak syarat2 berat yang harus kita miliki, syarat2nya yaitu ya MT-MT juga sebenarnya.
Ø  MT yg pertama adalah Multi Talenta yaitu kita memang harus mempunyai banyak kemampuan khusus yang bisa kita gunakan dalam bekerja. Entah kemampuan soft skill atau hard skill, maksudnya entah itu kemampuan untuk bekerja secara kantoran atau kerja secara kuli bangunan
Ø  MT yg kedua adalah Multi Tasking, harus bisa untuk bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Seperti kata peribahasa kan, sambil menyelam.. masak aer, biar mateng!!!
Ø  Muka Tebal/Muka Tembok. Seorang MT harus bisa tahan malu atau tahan cacian dan makian dari orang-orang sekitarnya, karena pada dasarnya kita digaji untuk belajar. Gajinya juga termasuk besar bila dibandingkan dengan staf2 lainnya, maka banyak yang sirik sih pada dasarnya
Ø  Macho dan Tampan, ya kayak gw ini... J
Yah karena gw memenuhi beberapa syarat tersebut akhirnya gw bisa lolos sebagai MT di salah satu perusahaan pembiayaan terkemuka (katanya) di Indonesia.. walaupun sebenarnya ini perusahaan (terlihat) besar oleh nama besar (katanya) grup nya tersebut. Grup ini besar juga karena medianya bukan karena financial industries nya, jadi apakah perusahaan ini besar? Gedungnya aja, eh nggak juga, kantor pusatnya hanya ruko 4 lantai yang digabung dengan beberapa blok ruko juga. Jadi apanya yang besar??
Janjinya mungkin yang besar, yup yang pasti kami calon peserta program MT ini akan dijanjikan karier yang cemerlang, benefit2 yang menguntungkan (benefit ya pasti untunglah), kesejahteraan yang baik untuk para karyawannya, dll lah. Cuma sudah berbulan-bulan disini belum kelihatan yah realisasi janjinya, ga tau deh klo yg sudah bertahun-tahun disini. Impian perusahaan ini juga besar lho.. Top 20 perusahaan pembiayaan, klo Top 10 mah kekecilan (10 sama 20 kan gedean 20 toh?), dengan target2 perusahaan yang juga besar, tiap tahun pasti ga pernah turun targetnya.. walaupun tiap tahun juga ga pernah tercapai targetnya.. J